Advertorial DPRD Balikpapan Gagas Wisata Edukasi di Kawasan Sentra Industri Tahu Tempe

DPRD Balikpapan Gagas Wisata Edukasi di Kawasan Sentra Industri Tahu Tempe

32
SHARE
Sekretaris Komisi II, Taufik Qul Rahman.

Sultanews.com, BALIKPAPAN – Komisi II DPRD Kota Balikpapan berencana mengembangkan kawasan sentra industri kecil somber (SIKS) tahu tempe di Jalan A.W Syahranie, Kelurahan Muara Rapak, Kecamatan Balikpapan Utara menjadi destinasi wisata edukasi dan kuliner. Ide ini muncul dalam kunjungan lapangan yang dilakukan oleh Komisi II DPRD yang dipimpin oleh Sekretaris Komisi II, Taufik Qul Rahman.

Dalam kunjungan tersebut, Taufik menjelaskan bahwa industri tahu tempe yang telah lama beroperasi di Balikpapan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis edukasi. Menurutnya, dengan menonjolkan proses pembuatan tahu dan tempe, pengunjung tidak hanya akan mendapatkan pemahaman mengenai sejarah dan teknik tradisional, tetapi juga dapat menikmati ragam olahan berbasis kedelai yang merupakan ciri khas kuliner lokal.

“Kami ingin menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya memperkenalkan proses pembuatan tahu dan tempe kepada masyarakat, tetapi juga menjadikannya sebagai sentra kuliner khas Balikpapan,” ungkap Taufik kepada wartawan, Jumat (31/1/2024).

Untuk mewujudkan rencana ambisius tersebut, DPRD Balikpapan akan bekerja sama dengan berbagai pihak eksternal, termasuk akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan beberapa universitas di Bandung. Kehadiran para akademisi diharapkan dapat memberikan masukan strategis dalam perencanaan pengembangan kawasan, mulai dari tata letak, konsep wisata edukasi, hingga strategi promosi yang efektif. Kolaborasi dengan pihak pendidikan juga diharapkan dapat menyuntikkan nilai-nilai keilmuan serta inovasi dalam penyajian konten edukasi yang menarik bagi berbagai kalangan.

Selain itu, kawasan sentra industri tahu tempe ini juga diproyeksikan sebagai lokasi camping yang dapat dimanfaatkan oleh Pramuka dan masyarakat umum. Rencana ini menunjukkan bahwa pengembangan tidak hanya berfokus pada aspek wisata edukasi dan kuliner, melainkan juga mencakup potensi pariwisata alam yang mendukung kegiatan luar ruangan. Dengan pengelolaan yang terencana, kawasan ini diyakini bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Balikpapan melalui retribusi wisata dan pengelolaan parkir oleh Dinas Perhubungan.

“Targetnya, pada 2026 kita bisa menyelaraskan anggaran untuk pengembangannya. Saat ini, kita ingin melihat peluang yang bisa dikerjakan terlebih dahulu,” tambah Taufik.

Pemerintah daerah juga akan melibatkan pelaku UMKM setempat agar mereka dapat merasakan manfaat dari pengembangan kawasan ini. Dengan mengintegrasikan UMKM, diharapkan akan terbentuk ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, sekaligus memperkuat identitas kuliner Balikpapan. Jika proyek ini sukses, Balikpapan tidak hanya dikenal sebagai kota industri dan energi, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukatif yang menarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara. (Yud/ADV/DPRD Balikpapan)