sultanews.com, Kukar – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar acara Sosialisasi Sekolah Adiwiyata Tahun 2024 di Hotel Grand Fatma, Tenggarong pada Kamis (11/7/2024).
Acara ini dihadiri oleh 158 Kepala SMP di Kukar, bertujuan untuk mengembangkan potensi sekolah dalam menjadikan lingkungan sekolah sebagai tempat yang nyaman, inovatif, dan berwawasan lingkungan.
Emi Rosana Saleh, Kasi Penjaminan Mutu dan Kelembagaan SMP Disdikbud Kukar, menjelaskan bahwa tujuan utama dari sosialisasi ini adalah untuk mendorong para sekolah di Kukar menuju status Sekolah Adiwiyata. Ini bukan hanya tentang memperoleh predikat, tetapi lebih pada proses menuju perubahan positif seperti pembiasaan hidup sehat dan pengelolaan kebersihan lingkungan.
“Saat ini baru 6 sekolah yang telah memperoleh predikat Adiwiyata dari tahun 2020-2023, dengan 3 di antaranya mencapai tingkat Provinsi dan 3 lainnya di tingkat Kabupaten. Ada upaya besar untuk meningkatkan jumlah sekolah yang terlibat dalam inisiatif ini,” ungkap Emi.
Disdikbud Kukar berkomitmen untuk tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi juga menggandeng sejumlah perusahaan untuk memberikan pendampingan langsung ke sekolah-sekolah.
“Perusahaan mitra kami telah aktif dalam menghubungi sekolah-sekolah untuk mengelola berbagai aspek, seperti taman apotik hidup,” tambahnya.
Di sisi lain, Kasi Sapras SD Disdikbud Kukar, Mujahidin, menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur Sapras Adiwiyata, khususnya dalam menerapkan konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).
“Kami ingin memastikan bahwa setiap satuan pendidikan mampu mengelola benda-benda Sapras dengan prinsip 3R dengan baik. Ini menjadi tantangan bagi sekolah-sekolah di Kukar untuk membuktikan komitmennya terhadap program Adiwiyata,” jelas Mujahidin.
Dia juga menegaskan perlunya edukasi kepada Kepala Sekolah tentang pentingnya tidak memandang remeh barang-barang yang sudah kadaluarsa.
“Kami mendorong semangat untuk menerapkan 3R. Contohnya, kursi kayu yang digantikan dengan kursi besi dapat dijadikan objek yang berguna lainnya, bukan hanya langsung dibuang,” imbuhnya.
Mujahidin menambahkan bahwa implementasi konsep Adiwiyata harus menjadi fokus utama Kepala Sekolah dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan sekolah, termasuk dalam praktik menanam, mengelola, dan memilah sampah.
“Ini bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi langkah konkrit dalam mendukung program-program lingkungan yang lebih luas baik dari pemerintah pusat maupun internasional,” tutupnya.
(Adv/Disdikbud Kukar)